CASE STUDY
BAGAIMANA MENINGKATKAN MINAT BELAJAR MEREKA?
SMP Negeri 2 Patikraja adalah sebuah sekolah negeri yang berlokasi di Desa Kedungwuluh Lor Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas. Seandainya diklasifikasikan, SMP Negeri 2 patikraja mungkin masuk kelompok sekolah pinggiran. Dan itu memang beralasan karena letaknya yang di desa, di tengah persawahan. Sebuah ciri khas pedesaan. Oleh karena itu sebagian besar orang tua siswa SMP Negeri 2 Patikraja bermata pencaharian sebagai petani.
Saya menjadi guru di SMP negeri 2 Patikraja belum lama, kurang lebih setahun. Sebelumnya saya mengajar di SMP Negeri 1 Purwojati selama kurang lebih 5 tahun. Ternyata perbedaan status antara SMP 2 dengan SMP 1 sangat nyata, terutama pada sumber daya siswanya. Hal tersebut saya rasakan sangat nyata sekali ketika berada dalam kegiatan belajar mengajar atau ketika di dalam kelas. Dahulu sewaktu di SMP Negeri 1 Purwojati, siswanya begitu tertib ketika pelajaran. Kemudian diterangkan sedikit materi pelajarannya mereka sudah paham. Akan tetapi, siswa di SMP Negeri 2 Patikraja begitu berbeda. Kebetulan saya diberi kepercayaan mengajar kelas VII, yang notabene baru lulus Sekolah Dasar. Kelakuan mereka masih seperti anak SD. Ketika sedang diterangkan banyak dari mereka yang berbicara sendiri, asik mengobrol dengan teman sebangku atau dengan teman lain meja. Dan itu terjadi pada semua kelas yang saja ajar (6 kelas).
Sebagai seorang guru, saya berkeinginan agar siswa merasa senang saat belajar dan tetap mengikuti pembelajaran sampai jam pelajaran berakhir. Sudah banyak cara/metode yang saya gunakan untuk menarik perhatian mereka, membuat mereka senang mengikuti pelajaran Fisika. Dari metode ceramah sampai diskusi kelompok. Mungkin dari jumlah 34 siswa dalam satu kelas yang benar-benar berniat sekolah hanya 10% saja, yang sisanya menurut kesimpulan saya mereka hanya sekedar memenuhi rutinitas sehari-hari. Masuk pukul 07.00 dan pulang pukul 12.30. mereka tidak paham betul untuk apa mereka datang setiap hari ke sekolah.
Kemudian pada suatu saat saya terinspirasi oleh pelajaran TIK. Saya melihat, ketika masuk jam pelajaran TIK, mereka begitu bersemangat. Kadang belum jamnya saja mereka sudah berlarian dan berebutan ke ruang laboratorium computer. Saya bertanya dalam hati, mengapa mereka begitu tertarik, begitu bersemangat belajar computer. Akhirnya saya ambil kesimpulan sendiri bahwa mereka begitu tertarik dengan computer karena computer bagi mereka adalah sesuatu yang baru, sesuatu yang bagi 90% dari mereka belum mengenal sama sekali computer. Dan mereka langsung mengalami sendiri pengalaman belajar computer bukan hanya sekedar konsep atau teori.
Berdasarkan kesimpulan yang saya buat sendiri, saya merencanakan untuk menggunakan metode pembelajaran yang lain, yang baru menurut mereka. Akhirnya saya memilih untuk mencoba menggunakan multimedia yaitu menggunakan computer/laptop, CD dan LCD. Kalau hari-hari biasa kami mengajarkan konsep-konsep IPA Fisika dengan metode yang sudah sangat kuno, yaitu banyak ceramahnya, maklum sekolah kami belum banyak dan belum mampu untuk memenuhi sarana dan prasarana yang standar.
Standar kompetensi yang akan saya ajarkan adalah memahami klasifikasi zat dengan kompetensi dasar Mengelompokkan sifat larutan asam, larutan basa, dan larutan garam melalui alat dan indikator yang tepat. Untuk keperluan tersebut saya menyiapkan diri dengan power point denga disisipi gambar. Kemudian ditambah materi yang saya download dari e-dukasi.net. serta CD pembelajaran interaktif. Tibalah saatnya masuk jam pelajaran ke 7-8. Kelas VII A saya bawa ke ruang multimedia. Pelajaran saya buka dengan sapaan selamat siang anak-anak. Kemudian pelajaran dilanjutkan dengan siswa melihat tayangan materi di layar. Anak-anak yang biasanya tidak tertarik dengan pelajara, hari itu saya melihat ada perbedaan. Mereka tenang dan tertib, tidak seperti biasanya. Meskipun siswa yang bernama Abi mutaqqi tetap saja bikin ulah seperti biasanya. Tetapi secara umum sudah ada perbedaan yang jauh antara pemeblajaran di kelas denagn pembelajaran yang sekarang. Mungkin juga karena selain menggunakan power point, saya juga menggunakan CD pembelajaran yang di dalamnya berisi materi flash. Dengan begitu materi menjadi menarik karena ada gambar yang berformat flash. Pembelajaran berlanjut dengan mengelompokkan anak-anak pada kelompok-kelompok yang sudah ada. Selanjutnya anak-anak mengerjakan LKS yang saya bagikan. Dengan anak berdiskusi dalam kelompoknya untuk memecahkan masalah-masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang ada di LKS masing-masing anak serta menemukan konsep baru pada pikiran masing-masing anak.Sambil saya berkeliing saya memberikan penjelasan seperlunya ketika beberapa anak yang masih belum paham dengan materi pada LKS.Hal ini menjadi tanda tanya besar, kenapa siswa yang tadinya intens memperhatikan tayangan LCD tapi setelah diadakan diskusi kelompok yuntuk membahas masalah banyak siswa yang belum paham dan terlihat agak malas-malasan.Setelah waktu yang ditentukan, selanjutnya masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya.Proses diskusipun berjalan dengan monoton, hasil diskusi hanya dibacakan saja tanpa dirspon oleh kelompok lain,Selanjutnya pelajaran hari itu ditutup dengan sebuah kesimpulan yang dibuat bersama semua kelompok.
Meskipun saya merasa tujuan pembelajaran atau target pembelajaran pagi itu 95 % tercapai, masih ada ganjalan di benak saya ketika pembelajaran berakhir. Ganjalan itu antara lain adalah (1) bagaimanakah seharusnya kita mengajar? (2) Apakah semua anak menikmati pembelajaran ini? (3) Apakah bahasa sapaan saya dalam bentuk anak-anak akan membekas dalam jiwa mereka sebagai bentuk sapaan yang penuh kebapakan? (4) Apakah pembelajaran saya tentang asam, basa dan garam memberikan makna tersendiri bagi anak-anak? Namun, saya mengakhiri pembelajaran hari itu dengan sebuah senyum, karena anak-anak sudah ada perubahan, sudah ada minat, sudah ada ketertarikan pada pelajaran Fisika, meskipun belum optimal.
Saya merasa lega setelah mengungkapkan secara tertulis semua yang saya rasakan ketika saya melaksanakan pembelajaran untuk kelas VII A. Ada sebuah tanya yang terus bergayut di dada, “Apakah semua anak yang ikut pembelajaran saya memahami dengan baik semua yang seharusnya memang mereka pahami. saya ingin lebih ‘bersahabat’ dengan mereka. Kita semua tentu berharap agar semua anak dapat mengikuti pembelajaran tanpa beban di luar konteks pembelajaran.
Komentar
Posting Komentar